Karya : Ni’matul Faizah
Mata tua itu
berbinar indah
Seakan tak akan habis kebahagiannya
Tangannya yang dulu kuat memapahku
Kini sudah tak mampu lagi memegang erat tubuhnya sendiri
Andai ... aku bisa kembali ke masa lalu
Ucapkan kata sayang agar dia mampu mendengarnya
Ucapkan kata cinta yang selalu aku pendam
Seakan tak akan habis kebahagiannya
Tangannya yang dulu kuat memapahku
Kini sudah tak mampu lagi memegang erat tubuhnya sendiri
Andai ... aku bisa kembali ke masa lalu
Ucapkan kata sayang agar dia mampu mendengarnya
Ucapkan kata cinta yang selalu aku pendam
Aku hanya
berharap waktu itu tak pernah berlalu
Tapi waktu itu selalu menua dengan takdirnya
Dan kita tak mampu menghindarinya
Sungguh ku ingin memeluk erat tubuh tuanya
Dalam dekap hangat sesosok ibu penuh rasa
Dalam pangkuan ayah yang memopoh dengan kuatnya
Ayah ... Ibu ... ku haturkan hormat yang selama ini ku simpan
Dalam benak yang tak kuat untuk mengatakan sayang
Tapi waktu itu selalu menua dengan takdirnya
Dan kita tak mampu menghindarinya
Sungguh ku ingin memeluk erat tubuh tuanya
Dalam dekap hangat sesosok ibu penuh rasa
Dalam pangkuan ayah yang memopoh dengan kuatnya
Ayah ... Ibu ... ku haturkan hormat yang selama ini ku simpan
Dalam benak yang tak kuat untuk mengatakan sayang
Ku simpan
sayangku ayah ibu
Tak terucap namun tertancap kuat
Maaf atas segala khilaf anakmu ini
Mungkin beribu kata maaf tak mewakili
Maafkan atas perlakuan kasarku
Dalam naungan kalbu ku mengadu
Kepada ibu ku bersua kasih rindu
Pada ayah ku bagi beban tak menentu
Tak terucap namun tertancap kuat
Maaf atas segala khilaf anakmu ini
Mungkin beribu kata maaf tak mewakili
Maafkan atas perlakuan kasarku
Dalam naungan kalbu ku mengadu
Kepada ibu ku bersua kasih rindu
Pada ayah ku bagi beban tak menentu
Ayah dan
ibuku ...
Kini anakmu tlah mampu menapak
Berdiri tegak menyongsong kain pembatas
Menancapkan paku kemandirian
Mencancang tali kekokohan
Dalam kerasnya baja kehidupan
Terimakasih ayah dan ibu
Segala daya , doa dan asa dari kalian
Menghantarkanku , mendewasakanku . . .
Kini anakmu tlah mampu menapak
Berdiri tegak menyongsong kain pembatas
Menancapkan paku kemandirian
Mencancang tali kekokohan
Dalam kerasnya baja kehidupan
Terimakasih ayah dan ibu
Segala daya , doa dan asa dari kalian
Menghantarkanku , mendewasakanku . . .
(pikirkupun
melayang , dahulu penuh kasih , teringat tentang cerita orang tentang
riwayatku)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar